Minggu, 21 Agustus 2011

Tes Widal


Seseorang di Indonesia yang mempunyai reaksi Widal positif, belum berarti sakit tifus. Tifus tidak pernah mulai dengan demam tinggi pada hari pertama sampai ketiga. Bila demam terus berlanjut dan pada hari ke 5 - 6 menjadi lebih tinggi, maka barulah tiba waktunya untuk memeriksa Widal dan melakukan pembiakan kuman dari darah. Hasil pembiakan kuman tifus yang positif merupakan bukti pasti adanya tifus. Sayangnya, hasil kultur kuman ini baru diketahui sesudah satu minggu (diluar negeri dalam 2 - 3 hari, dan ini merupakan tantangan untuk laboratorium kita). (http://www.iwandarmansjah.web.id/popular.php?id=50)

Penderita tifus mulai demam rendah (subfebril) malam hari, hilang esoknya, terulang lagi malamnya, menjadi makin hari makin tinggi. Mulainya malam saja, kemudian siang juga. Satu yang khas pada tifus, demam muncul sore dan malam hari saja. (http://www.iwandarmansjah.web.id/popular.php?id=50) dan (http://obatpropolis.com/tag/pemeriksaan-widal)

Reaksi Widal merupakan tes imunitas tubuh yang ditimbulkan oleh ‘jejak’ masuknya Salmonella typhi / paratyphi, yaitu bakteri yang terdapat di minuman dan makanan yang terkontaminasi oleh tinja orang yang sakit tifus. Pemeriksaan laboratorium untuk konfirmasi kecurigaan -akan tifus- ialah kultur darah yang dilakukan pada saat demam tinggi -yang merupakan pertanda bahwa bakteri sedang menyebar dalam darah (sehingga lebih mudah dikultur). Kultur tidak bisa dilakukan pada hari-hari permulaan demam karena cenderung masih negatif. Kita harus menunggu hingga demam sudah tinggi dan konstan. (http://lita.inirumahku.com/health/lita/tes-widal-untuk-diagnosa-tifus-menipu/)

Test Widal tidak bisa dipercayai karena banyak hasil tes yang palsu positif maupun palsu negatif. Tes Widal hanya akan berguna untuk tindaklanjut, terutama jaman dulu ketika belum ada antibiotik sehingga tifus bisa berlangsung 1 bulan atau lebih. Tes ini berfungsi untuk melihat apakah titer (antibodi)nya naik selama penyakit tersebut. Tes ini tidak berguna lagi karena antibiotik yang ampuh sudah tersedia dan akan menyembuhkan tifus dalam 7-10 hari sehingga tidak perlu tindaklanjut. (http://lita.inirumahku.com/health/lita/tes-widal-untuk-diagnosa-tifus-menipu/)

Angka reaksi Widal sendiri tidak ada artinya, karena naiknya suhu yang khas, perlahan, sampai tercapai suhu tinggi sesudah 5 - 6 hari merupakan simtom yang lebih penting untuk menduga adanya tifus. Demam tinggi yang terjadi sampai 4 - 5 hari, tanpa tanda-tanda infeksi kuman yang jelas, lebih dari 90% kemungkinannya ialah infeksi oleh virus, yang tidak perlu diberi antibiotika. (http://www.iwandarmansjah.web.id/popular.php?id=50)

Mengenai diet, tifus tidak memerlukan diet bubur yang ketat; nasi agak lembek sudah cukup. Daging, telur, ikan, ayam, tahu, tempe, sedikit sayur, dan buah boleh saja. Namun, yang pedas dan keras seperti kacang sebaiknya dihindarkan. Yang lebih penting ialah istirahat (tidur terlentang) sepanjang hari, sampai panas turun selama beberapa hari. (http://www.iwandarmansjah.web.id/popular.php?id=50)

Banyak pergerakan menyebabkan suhu naik lagi, karena kuman terlepas dari tempat perkembangannya di usus masuk ke dalam darah. Pergerakan banyak juga menimbulkan risiko usus pecah pada minggu ke 3 - 4. Dengan perawatan ini dan obat antitifus yang khusus, demam baru akan turun dalam 4 - 8 hari. Bila panas sudah turun dalam 1 - 2 hari setelah pengobatan, kemungkinan bukan tifus yang diderita. (http://www.iwandarmansjah.web.id/popular.php?id=50)

**Rencananya nyari artikel tentang kenaikan titer dan maksudnya, tapi malah dapat kedua artikel ini yang saling nyambung. Kesimpulannya tes widal untuk memastikan tifus agak kurang pas kalo diterapin di Indonesia.
Ada dua kemungkinan:
1. orang Indonesia mungkin aja pada kena tifus tapi karena sistem imunnya bagus dan bakteri tsb belum sanggup menginfeksi karena jumlah dan sifatnya yang tidak memadai jadi pas dites widal positif tapi kondisi yang terlihat sehat-sehat aja gak ada tanda-tanda tifus.
Jadi kemungkinan pertama ini maksudnya biar kita gak terlalu khawatir seandainya terlanjur dites widal trus positif tapi kelihatan sehat atau kelihatan sakit tapi langsung sembuh setelah berobat cuma dalam 1-2 hari (kalo tifus baru turun panas 4-8 hari).
2. seperti pada artikel kalo dulu tes ini digunain buat mengukur apakah titer (antibodi)nya naik selama penyakit tersebut sehingga tes ini tidak berguna lagi karena antibiotik yang ampuh sudah tersedia dan akan menyembuhkan tifus dalam 7-10 hari (ada yang bilang 4-8 hari) sehingga tidak perlu tindaklanjut (tes widal).
** Tapi pendapat gw lagi yang sejalan dengan artikel yang mau muncul di bawah karena katanya widal itu murah (masih belum tau harganya berapa) kenapa enggak dicoba tes widal untuk tahu gambaran penyakit tifus yang diderita karena sebuah tes pasti ada cara baca kesimpulannya kan entah nanti hasilnya positif tapi bukan tifus atau yah memang kena tifus. Istilahnya pemeriksaan penunjang.


Untuk mengetahui seseorang terjangkit tifus atau tidak, maka tes yang umum digunakan adalah tes Widal. Jika positif berarti tifus, jika tidak maka mungkin penderita terjangkit penyakit lain. Padahal, Widal positif tidak selalu berarti penderita terjangkit tifus. Ini karena orang sehat sekalipun jika dites widal hasilnya bisa positif. Seorang dokter penyakit dalam bahkan pernah berkelakar, jika pasien, perawat, bahkan dokter yang berpraktik di kliniknya dites Widal, maka bukan tidak mungkin hasilnya positif semua. Ingat, kebersihan merupakan sebuah hal yang sulit dicari di negeri ini. Nasi goreng yang biasa kita santap bersama teman, es jeruk yang diseruput di warung tegal, bahkan menu makanan di kantin, tidak ada jaminan bebas tifus 100%. Namun, karena jumlah kuman yang masuk ke dalam tubuh tidak sampai menginfeksi, sakit tifus pun tidak terjadi. Ini berbeda dengan kondisi di Eropa atau Singapura yang sanitasinya sudah baik. Tes Widal positif berarti kemungkinan besar terjadi infeksi tifus. (http://www.enformasi.com/2010/04/mengenal-penyakit-tifus.html)

Namun, tidak berarti tes Widal diragukan akurasinya. Jika tesnya dilakukan di waktu yang tepat, plus diagnosis klinisnya benar, maka penyakit tifus dapat dengan mudah terdeteksi. Tes Widal idealnya dilakukan setelah hari ke-5 atau 6, sesudah penderita mengalami gejala klinis tifus yaitu demam. Jika dilakukan sebelum itu maka hasilnya tidak akurat. Selain itu, selidiki juga gejala lainnya seperti sembelit, nyeri perut, lidah kotor, muntah, dan lain-lain. Dengan kombinasi tes Widal dan deteksi gejala, maka penyakit tifus dapat dideteksi dengan mudah. Selain harganya yang lebih ekonomis, tes Widal juga dapat mendeteksi penyakit paratifus, sebuah penyakit dengan gejala mirip tifus tapi lebih ringan. Paratifus disebabkan bakteri Salmonella paratiphy. Sedangkan tifus disebabkan bakteri Salmonella typhi. (http://www.enformasi.com/2010/04/mengenal-penyakit-tifus.html)

Selain tes Widal, ada tes yang lebih akurat, yaitu tes TUBEXR yang merupakan tes imunologi. Merupakan tes dengan menggunakan partikel yang berwarna untuk meningkatkan sensitivitas. Tes ini sangat akurat dalam diagnosis infeksi akut pada tifus. Beberapa penelitian menyimpulkan, tes ini mempunyai sensitivitas lebih baik daripada uji Widal. Tes ini dapat menjadi pemeriksaan yang ideal, dapat digunakan untuk pemeriksaan secara rutin karena cepat, mudah dan sederhana, terutama di negara berkembang. Meski begitu, tes ini hanya dapat mendeteksi penyakit tifus, tapi tidak paratifus yang kerap menyertai tifus. Tes yang lebih akurat adalah pembiakan kuman dari darah, urine, feses, sumsum tulang, atau cairan lainnya. Hasil biakan yang positif memastikan demam tifoid. Media pembiakan yang direkomendasikan untuk S. typhi adalah media empedu. Ini karena S. typhi dan S. paratyphi dapat tumbuh pada media tersebut. Namun, tes biakan kuman sebaiknya dilakukan sebelum penderita diobati antibiotika. Meski sangat akurat dan dapat mendiagnosis tifus dan paratifus, diagnosis biakan kuman membutuhkan waktu lama (5-7 hari) serta peralatan yang lebih canggih untuk identifikasi bakteri sehingga tidak praktis untuk diagnosis penderita. (http://www.enformasi.com/2010/04/mengenal-penyakit-tifus.html)

**Artikel kali ini agak berat nyambunginnya tapi dapet ilmulah dikit-dikit soalnya penulis gak fokus dengan judul tertentu tapi malah ngambil judul tes widal. Tapi namanya juga belajar. Berani salah dong. Btw, menarik kesimpulan merupakan hak pribadi jadi jangan mau cuma nurut2 aja seperti kata pepatah bagai kerbau dicocok hidungnya (ngenes dengernya). Sesuai artikel ini ya terserah para pembaca dong (kalo ada yang baca) mau dites widal apa gak. Ambil hikmahnyalah ya...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar