Minggu, 21 Agustus 2011

Tidur, kurang, lebih, atau cukup?


"Orang yang tidak mendapatkan tidur cukup baik itu kurang atau berlebih berisiko mengalami kecelakaan lalu lintas, perubahan berat badan, penurunan produktivitas serta terganggunya sistem kekebalan tubuh," ujar Dr Daniel Kripke, direktur Scripps Clinic Sleep Center di La Jolla, California, seperti dikutip dari CNN. (http://kedaiberita.com/Alternatif/tidur-berlebihan-ganggu-kesehatan.html)

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh asosiasi perawat dunia, yang memberikan hasil bahwa terdapat 38% wanita yang mengalami penyakit jantung koroner, ketika mereka biasa tidur lebih dari 10 jam per hari. Mereka yang suka tidur lebih dari sembilan jam per hari, menurut peneliti akan mudah terkena penyakit diabetes, termasuk untuk orang yang tidur kurang dari lima jam. Orang yang mengalami insomnia atau sulit tidur sering dihubungkan dengan yang namanya stress, karena obat yang diminum sebenarnya bukan untuk menghilangkan rasa sulit tidur saja, namun juga untuk menambah depresi lebih berat. Bahkan stress juga dapat dialami oleh orang yang banyak tidur. (http://sugizo.wordpress.com/2009/11/29/waspadai-insomnia-dan-tidur-berlebihan/)

Berbagai kajian dan penelitian menunjukkan pentingnya memperkecil porsi tidur. Dr. Hamdi mengatakan, “Para dokter berpendapat bahwa orang yang membatasi waktu tidurnya justru lebih enerjik dan lebih giat daripada orang yang menambah porsi tidurnya lebih dari delapan jam. Hal itu karena orang yang suka tidur biasanya memiliki sifat gelisah, introvert, terasing, cemas, cenderung impoten, rusak sarafnya, bimbang, dan mudah terpengaruh oleh sebab-sebab yang sepele, serta pesimis. Sebagaimana mereka tidak menyikapi masalah pribadi mereka secara serius. Karena itu, mereka suka tidur dan seolah-olah mereka lari dari kehidupan, dan berbagai masalahnya.”

Jadi, banyak tidur dianggap sebagai tindakan lari dari realitas. Padahal kehidupan ini hanyalah beberapa jam yang digunakan untuk menghadapi realitas ini, perjuangan melawan hawa nafsu dan mengarahkannya kepada yang lebih baik, Hamdi juga mengatakan, “Sebagaimana berbagai kajian para peneliti membuktikan bahwa orang-orang yang tidurnya singkat lebih biasa merasakan tidur nyenyak daripada orang-orang yang tidur lebih banyak dari ukuran yang normal. Jadi, banyak tidur itu tidak sehat, sedangkan tidur minimal itu dapat menjadi obat.” (http://jiwang.org/groups-ilmiah/32950-tarbiyah-tidur-berlebihan.html)

Sesuai dengan pengalaman penulis dan tentunya masih diidap sampai detik ini, pernyataan dan pendapat di atas belum ada yang meleset alias tepat banget. Aku suka sekali tidur bahkan sehari bisa lebih dari 8 jam alhasil aku jadi stres, fisikku lemah, tidak produktif, bermalas-malasan, hampa, menyesal, menderita, dan melarikan diri terus dan terus. Bodoh banget orang yang suka tidur dan tidak ada yang bisa dibanggakan oleh orang yang suka tidur. Bolehkah aku membenci diriku sendiri? Boleh tetapi lebih baik merubah kebencian menjadi semangat merubah diri menjadi lebih baik salah satunya berhentilah tidur sebanyak biasanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar